Oleh:
Hamim Anshari, M.Pd | Koordinator Kokurikuler SMAN 1 Babelan Kab. Bekasi dan Sekum KB PII Kota Bekasi
GURU memegang peran strategis dalam membentuk masa depan generasi bangsa. Tugas guru tidak sebatas mentransfer pengetahuan akademik seperti membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter, kedisiplinan, serta budi pekerti yang menjadi fondasi kehidupan sosial anak. Di tangan gurulah, anak-anak dibimbing untuk memahami batas, tanggung jawab, dan konsekuensi atas setiap tindakan.
Dalam praktiknya, mendidik anak yang patuh terhadap aturan tentu lebih mudah. Namun tantangan sesungguhnya muncul ketika guru berhadapan dengan peserta didik yang kurang disiplin, berpenampilan tidak mencerminkan identitas pelajar, atau menunjukkan sikap yang bertentangan dengan tata tertib sekolah. Pada titik inilah profesionalisme guru diuji. Membiarkan pelanggaran berarti mengabaikan fungsi pendidikan karakter. Sebaliknya, menegakkan aturan sering kali berujung pada penolakan, bahkan laporan kepada orang tua.
Kasus yang dialami Ibu Tri Wulansari, guru SDN 21 Muaro Jambi, menjadi cermin dari dilema yang dihadapi banyak guru di Indonesia. Ketegasan dalam menegakkan aturan sekolah, termasuk soal kerapian dan disiplin, kerap dipersepsikan sebagai tindakan berlebihan. Padahal, disiplin merupakan bagian integral dari proses pendidikan, bukan bentuk kekerasan atau pelanggaran hak anak.
Perlu dipahami bahwa profesionalisme guru tidak dapat berdiri sendiri. Dukungan orang tua memegang peran kunci dalam keberhasilan pendidikan anak. Ketika nilai-nilai disiplin yang diajarkan di sekolah tidak sejalan dengan pembiasaan di rumah, guru akan berada pada posisi serba salah. Anak menjadi sulit menerima koreksi, sementara guru kehilangan ruang otoritas pedagogisnya.
Karena itu, pendidikan ideal menuntut sinergi antara sekolah dan keluarga. Orang tua perlu menanamkan kepada anak bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa aturan dibuat bukan untuk mengekang, melainkan untuk membentuk karakter. Sementara itu, guru dituntut terus meningkatkan kompetensi profesional, memperkaya metode pembelajaran, serta menguatkan pendekatan sosial dan emosional dalam mendidik.
Sudah saatnya publik memandang persoalan disiplin di sekolah secara lebih jernih dan adil. Guru bukan musuh anak, melainkan mitra orang tua dalam membentuk manusia yang berkarakter, bertanggung jawab, dan siap menghadapi kehidupan. Tanpa kepercayaan dan dukungan terhadap guru, tujuan besar pendidikan nasional akan sulit terwujud.*

